Titik awal dan titik akhir proses tiga tahapan siklus kalbu manusia adalah dengan 'pengetahuan' dan 'kearifan', manusia akan dapat
menghidupkan kalbu sehingga mampu mengecap nikmat 'kebahagiaan'.
Mengikuti fitrahnya, manusia bercita-cita untuk selalu hidup tenteram dan bahagia. Setiap orang tidak suka hidup berlama-lama bahkan sedetik saja tinggal dalam kungkungan penderitaan. Akan tetapi, adakalanya pula manusia kebingungan menentukan pilihan hidupnya. Ia tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan, seringkali perbuatan-perbuatannya membawa akibat buruk bagi diri ataupun orang lain. Bila itu terjadi, maka berarti ia memerlukan pencerahan hati melalui ilmu. Agar akal, pikiran, dan perasaannya dapat mengenali sifat-sifat kebaikan beserta sifat-sifat keburukan.
Tertulis dalam Al-'Ihya bahwasanya dalam satu majlis ta'lim, Fath Al-Maushuuli bertanya, "Bukankah orang sakit akan mati jika ia tidak diberi makan, minum, ataupun obat ?"
"Benar." serentak orang-orang yang duduk di majelisnya menjawab.
Selanjutnya Sang Syaikh-pun berkata," Demikian pula halnya dengan hati. Jika tidak diberi hikmah dan ilmu dalam tiga hari, iapun akan mati."
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab. Ilmu ditulis dengan lafadz 'ilm yang secara harfiah dalam kosa kata bahasa Indonesia berarti 'tahu' atau 'pengetahuan'. Kata 'ilm ini termasuk kata yang paling banyak ditemukan dalam kitab suci Al-Qur'an. Tak kurang tiga puluh lima kali kata-kata 'ilm ditemukan dalam ayat-ayat-Nya. Dalam Ensiklopedia Islam Untuk Pelajar, kata hikmah dianggap sebagai kata yang memiliki makna paling dekat dengan kata 'ilm. Menurut kosa kata bahasa Indonesia, hikmah sendiri mengandung arti 'kearifan'.
Setelah mengetahui pengertian harfiah dari kata 'ilmu' dan kata 'hikmah', setiap orang perlu memotivasi diri untuk menempuh proses pembelajaran dengan memahami keutamaan ilmu dan tingginya derajat orang yang giat menuntut ilmu. Tertulis dalam Al-Qur'an Surat Al-Mujaadilah ayat 11, bahwasanya :"...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat... "
Jika dihubungkan dengan buah kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat yang dijanjikan Allah SWT pada orang-orang yang menuntut ilmu, dalam haditsnya Rasulullah SAW bersabda : "Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka semua amalannya terputus, kecuali tiga perkara : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kedua orang-tuanya." Makna dari hadits tersebut adalah ilmu merupakan salah satu dari tiga amal shalih yang pahalanya terus-menerus dilipat-gandakan oleh Alloh SWT. Dia telah menjamin setiap pencari dan pengamal ilmu dengan nikmat kebahagiaan yang takkan berkurang, takkan berakhir, kendatipun ia telah berada diantara para ahli kubur. Mengapa demikian ? Kemuliaan itu diberikan Allah SWT kepada seseorang yang mengamalkan ilmunya semata-mata karena manfaat ilmu tidak dibatasi oleh dimensi waktu. Jika seorang manusia menyumbangkan ilmunya, maka setiap siapa yang dapat mengambil manfaat kemaslahatan dari ilmu yang diamanahkan kepadanya, maka bersama dengan itu bertambah pula timbangan amal shalih dari orang yang dijadikan-Nya sebagai media ilmu yang memberi manfaat itu.
Melalui paparan mengenai pengertian dan keutamaan ilmu, setidaknya terdapat tiga kata kunci yang menunjukkan apa inti ilmu menurut dinul Islam. Kata-kata kunci tersebut adalah : 'pengetahuan', 'kearifan', serta 'kebahagiaan'.
'Pengetahuan' adalah segala sesuatu yang diketahui dan dipahami oleh manusia agar mendapatkan hikmah dari pengalaman hidup yang sesungguhnya merupakan pelajaran dari Allah SWT (Q.S. Al-Ankabut : 43). Jika pengetahuan yang diambilnya secara output mengandung manfaat positif, maka penuntut ilmu itu dikaruniai oleh Allah SWT dengan sifat 'kearifan'.
'Kearifan' adalah kemampuan seorang manusia dalam membedakan sesuatu yang haq dengan sesuatu yang bathil. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar ayat 9, yaitu : "Katakanlah (wahai Muhammad): Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tiada mengetahui ? Sesungguhnya hanya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran." Makna dari ayat tersebut adalah bahwasanya seseorang yang memiliki pengetahuan akan dapat mengambil pelajaran berharga dari setiap keadaan dengan menganggapnya sebagai tarbiyah dari Alloh. Sifat 'kearifan' tersebut akan membuat manusia tidak lengah dari setiap tipu daya syaitan yang cenderung menghasutnya ke jalan kemungkaran. Karena sifat itulah maka manusia akan mencapai 'kebahagiaan'.
Wujud daripada Kebahagiaan tercetus secara psikis maupun fisik. Derajat kebahagiaan yang tertinggi adalah kebahagiaan dari stimulus kondisi psikis. Dari runtutan 'pengetahuan', 'kearifan', 'kebahagiaan' sebagai inti ilmu, kalbu atau hati memegang peranan yang sangat mendasar. Titik awal dan titik akhir proses ketiga tahapan siklus itu adalah kalbu manusia. Dengan 'pengetahuan' dan 'kearifan', manusia akan dapat menghidupkan kalbu sehingga mampu mengecap nikmat 'kebahagiaan'. Rasulullah SAW telah bersabda bahwa :"Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan anggota tubuhnya yang lain akan membuatnya baik. Ia adalah hati." (H.R. Bukhari-Muslim).
Semoga Allah Azza Wa Jalla, memberi kita kemampuan untuk senantiasa menghidupkan hati kita dengan ilmu. Wallahu a'lam bish shawab.
Dikutip dari : http://pustaka.abatasa.co.id